Oleh: Utami Dwi Ratna Asih, S.Pd.

Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) merupakan salah satu mata pelajaran yang diajarkan di tingkat SMP. Mata pelajaran IPS memuat banyak sekali materi karena merupakan gabungan dari berbagai disiplin ilmu sosial seperti Geografi, Sejarah, Ekonomi dan Sosiologi. Keluasan materi pelajaran IPS dan ketidakpahaman peserta didik terhadap tujuan dari adanya mata pelajaran IPS kadang membuat peserta didik menjadi tidak tertarik dan menganggap bahwa pelajaran IPS hanya berisi hafalan yang tidak berguna. Apalagi jika guru menyampaikan secara monoton.

Fenomena tersebut menjadi bertambah buruk manakala terjadi pandemi covid 19 sejak akhir Maret 2020. Pembelajaran yang biasanya dilakukan dengan tatap muka harus diubah menjadi pembelajaran dalam jaringan/online. Sekolah harus mendapatkan izin terlebih dahulu dari Dinas Pendidikan jika akan melakukan pembelajaran secara tatap muka. Selanjutnya sekolah harus mengikuti aturan protokol kesehatan, seperti menyediakan tempat cuci tangan, sabun, hand sanitizer, alat ukur suhu badan/ thermo gun dan harus saling menjaga jarak. Sekolah juga diharuskan membentuk satgas covid 19 untuk memantau perkembangan kondisi sekolah selama pandemi covid 19 dan memutus mata rantai penyebaran covid 19.

Akibat adanya pandemi covid 19 ini, sekolah kami pun tidak bisa menyelenggarakan pembelajaran tatap muka langsung. Interaksi antara guru dan peserta didik lebih banyak dilakukan secara tidak langsung. Pembelajaran lebih banyak dilakukan dengan cara online yaitu melalui whatsapp dan beberapa menggunakan google classroom. Guru membuat google classroom dan mengundang peserta didik untuk ikut bergabung di dalamnya. Beberapa peserta didik mengaku bosan dengan pembelajaran daring karena terkesan hanya pemberian tugas saja dan ada juga peserta didik yang masih bingung menggunakan google classroom. Selain itu, dari hasil Penilaian harian mata pelajaran IPS kelas IX ternyata banyak peserta didik yang belum bisa mencapai keberhasilan. Sebagai contoh di kelas IX F, hanya ada 10 peserta didik dari total 32 peserta didik yang mencapai indikator keberhasilan. Persentase ketuntasan belajar IPS hanya sebesar 31,25%. Hal ini tentu saja menjadi sebuah permasalahan yang harus dicarikan solusinya oleh guru.

Keberhasilan belajar peserta didik tak lepas dari peran guru dalam menentukan strategi ataupun metode pembelajaran. Menurut Arsa (2015:16) “Metode pembelajaran adalah suatu cara atau upaya yang dilakukan oleh para pendidik agar proses belajar-mengajar pada peserta didik tercapai sesuai tujuan”. Metode pembelajaran yang digunakan guru seharusnya memang dapat lebih ditujukan ke peserta didik. Peran guru harusnya lebih banyak sebagai fasilitator saja. Apalagi peserta didik sekarang ini merupakan peserta didik generasi Z, dimana mereka cenderung kritis, menyukai hal-hal yang konkret, memanfaatkan teknologi, inovatif, lebih suka menonton video, film, atau tayangan powerpoint dari pada harus membaca.
Sejalan dengan hal ini, Permana (2017:78) menyatakan bahwa “ guru-guru IPS dalam pembelajaran IPS tidak boleh mengajar sesuai isi buku saja tetapi harus mau mengkaitkan materi dengan kehidupan nyata sehari-hari sehingga peserta didik memiliki pengalaman dan siap menjalankan perannya di dalam masyarakat”.

Berpijak dari pendapat-pendapat di atas dan melihat prestasi belajar peserta didik yang belum sesuai harapan membuat guru melakukan inovasi pembelajaran IPS dengan menerapkan metode Flipped Classroom Blended Learning dengan model 1C4P pada materi Perdagangan Internasional dan Ekonomi Kreatif di kelas IX F. Flipped Classroom merupakan salah satu bentuk metode pembelajaran Blended Learning, yang dimulai dari pembelajaran mandiri oleh peserta didik secara online dilakukan di rumah dengan mengakses google classroom kemudian dari materi tersebut akan diperdalam lagi dengan kegiatan diskusi pemecahan masalah dengan guru dan peserta didik lainnya melalui kegiatan tatap muka ataupun tatap maya. Berhubung masih pembelajaran dalam jaringan, maka dalam hal ini guru melakukan tatap maya melalui google meet. Langkah selanjutnya guru menyusun dan menerapkan desain pembelajaran menggunakan metode Flipped Classroom Blended Learning dengan model 1C4P. Desain pembelajarannya dapat digambarkan dalam beberapa tahap berikut ini:
1) Commit
Tahap awal guru menyadarkan peserta didik akan pentingnya materi IPS sehingga terbentuk kesadaran sikap dan komitmen peserta didik untuk selalu mengikuti pembelajaran IPS. Guru menjelaskan pentingnya materi “Perdagangan Internasional dan Ekonomi Kreatif”. Guru juga menayangkan sekilas tentang profil tokoh pengusaha sukses “Bob Sadino” pada saat awal melakukan pertemuan google meet untuk menumbuhkan motivasi dan kesadaran peserta didik pentingnya materi IPS ini.
2). Process
Guru mengajak peserta didik untuk membaca buku paket tentang materi Perdagangan Internasional dan Ekonomi Kreatif serta mempelajari materi yang sudah disiapkan oleh guru di google classroom berupa tayangan powerpoint dan video serta mengerjakan latihan agar peserta didik mampu mengolah informasi yang sudah didapatkan.
3). Practise
Peserta didik memperoleh kesempatan untuk menguji pemahaman yang didapat dari tahap proses dan guru menunjukkan apakah jawaban peserta didik itu benar atau salah. Tahap ini dilakukan guru dengan cara memberikan bahan diskusi beberapa pertanyaan yang harus ditanggapi peserta didik pada saat pertemuan google meet. Pada akhir pembelajaran guru memberikan konfirmasi atas jawaban peserta didik dan meluruskan jika ada kesalahpahaman sehingga peserta didik semakin paham. Pada tahap ini guru memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk diskusi atau tanya jawab tentang materi dan penugasan yang sudah dikerjakan.
4). Prove
Guru melakukan evaluasi berupa Penilaian Harian melalui google classroom untuk memberi kesempatan peserta didik membuktikan penguasaannya terhadap keseluruhan materi yang sudah diberikan oleh guru. Pada tahap ini sudah tidak ada diskusi antara guru dengan peserta didik seperti pada tahap practice.
5). Perform

Guru mengajak peserta didik untuk mengasah kreativitas sebagai bagian dari materi Ekonomi Kreatif dengan cara memberikan penugasan di akhir pembelajaran. Penugasan ini dilakukan secara kelompok yang terdiri dari 4 orang dengan memperhatikan protokol kesehatan. Salah satu subsektor dari kegiatan Ekonomi kreatif adalah kuliner. Oleh karena itu peserta didik diberikan tugas secara berkelompok untuk menjual makanan dan minuman pada waktu sore hari menjelang berbuka puasa karena bertepatan dengan Bulan Ramadan. Kegiatan ini dilakukan selama 3 hari. Langkah selanjutnya peserta didik membuat laporan kegiatan praktek penjualan tersebut dalam bentuk laporan dan video yang dikumpulkan kepada guru melalui google drive. Hal ini dilakukan sebagai wahana pembelajaran praktek bagi peserta didik dari materi Ekonomi Kreatif yang dikaitkan dengan kehidupan nyata sehari-hari. Penugasan praktek ini memberi kesempatan peserta didik untuk bekerja sama dengan teman-temannya, melatih sikap kemandirian, sikap sosial, empati serta mengasah jiwa wirausaha. Peserta didik antusias dan senang mengerjakan tugas praktek ini karena berbeda dengan tugas-tugas yang lalu, yang biasanya berupa soal-soal di google classroom.

Penerapan desain pembelajaran dengan metode Flipped Classroom Blended Learning ini juga tak lepas dari adanya tantangan. Tantangan pertama yaitu pada saat pertemuan dengan google meet, tidak semua peserta didik bisa mengikuti dengan lancar karena sinyal di beberapa tempat yang kurang mendukung. Tantangan kedua yaitu beberapa peserta didik masih ada yang pasif saat dilakukan diskusi sehingga guru juga harus memberi motivasi yang lebih banyak. Tantangan ketiga yaitu beberapa peserta didik mengeluh tidak punya paket data internet padahal sebenarnya peserta didik sudah dibantu dengan adanya subsidi kuota dari sekolah dan pemerintah. Dalam hal ini guru mengarahkan peserta didik untuk menggunakan paket data bantuan ke hal-hal yang mendukung pembelajaran di sekolah.

Tantangan keempat pada penugasan praktek ada kelompok yang sudah pesimis tidak mampu mengerjakan tugas pada awal pemberian penugasan ini. Guru memberikan motivasi kepada kelompok tersebut dengan memberikan solusi bagi kesulitan yang mereka hadapi sehingga mereka bisa percaya diri bahwa mereka mampu. Tantangan selanjutnya yaitu ada beberapa kelompok yang rugi karena sepi pembeli pada hari pertama. Guru memberikan solusi agar mereka mempertimbangkan tempat berjualan yang sekiranya banyak pembeli dan menjual barang yang memang dicari pada saat orang mau berbuka puasa seperti es buah segar, es kelapa muda, sosis bakar, pudding dan lain-lain. Guru juga meminta mereka untuk memfoto barang dagangan dan membuat gambar yang menarik kemudian mempromosikan di media sosial seperti whatsapp.

Setelah guru menerapkan metode Flipped Classroom Blended Learning model 1C4P pada materi Perdagangan Internasional dan Ekonomi kreatif di kelas IX F, terdapat peningkatan prestasi belajar peserta didik. Peningkatan prestasi ditunjukkan dari hasil penilaian harian dimana peserta didik yang mencapai keberhasilan ada 25 peserta didik dari 32 peserta didik atau 78,13%. Pada penilaian harian sebelum menerapkan inovasi ini diketahui bahwa jumlah peserta didik yang mencapai keberhasilan hanya ada 10 peserta didik dari 32 peserta didik atau 31,25%. Prestasi belajar IPS di kelas IX F meningkat dari 31,25% menjadi 78,13%. Sedangkan penilaian pada ranah afektif dilakukan guru dengan mengukur tingkat kedisiplinan dan keaktifan peserta didik dalam pembelajaran.

Kedisiplinan dilihat dari presensi peserta didik melalui google form dan ketepatan waktu dalam mengumpulkan tugas. Keaktifan peserta didik dinilai saat diskusi berlangsung pada pertemuan google meet. Berdasarkan hasil pengamatan guru, terjadi peningkatan persentase nilai sikap peserta didik kelas IX F sebesar 15,11% yaitu dari 63,80% menjadi 78,91%. Selain itu berdasarkan hasil dari tahap Perform, peserta didik terlihat antusias mengerjakan tugas praktek dan mengumpulkan laporannya baik berupa laporan tertulis maupun dalam bentuk video. Mereka senang karena dagangannya bisa laku dan memperoleh laba. Bahkan beberapa peserta didik melaporkan betapa mereka sangat bersyukur dengan kehidupan mereka sekarang dan senang bisa mendapatkan kesempatan merasakan bagaimana beratnya bekerja mencari nafkah. Dari sini bisa diketahui bahwa tugas praktek ini bisa menyentuh ranah afektif peserta didik sehingga mereka bisa merefleksikannya pada kehidupan nyata. Perubahan sikap ini tentunya lebih berharga daripada angka yang tertulis pada daftar nilai mereka.

Demikian pengalaman mengajar IPS menggunakan Flipped Classroom Blended Learning dengan model 1C4P yang sudah berhasil meningkatkan prestasi belajar IPS peserta didik kelas IX F SMP N 1 Semanu tahun pelajaran 2020/2021. Semoga bermanfaat.

PROFIL PENULIS
Penulis bernama Utami Dwi Ratna Asih, S.Pd., akrab disapa Uut/Utami. Lahir pada tanggal 14 Mei 1984 di Sukoharjo, Jawa Tengah. Penulis adalah guru IPS di SMP Negeri 1 Semanu, Gunungkidul, Yogyakarta. Motto hidup penulis adalah “do what you can , with what you have, where you are”. Penulis dapat dihubungi di: HP/WA : 081393045360